I
You and Him
Author:
Shin Kyona
Main
Cast: Jo Kwangmin, Jo Youngmin, Oh Hayoung, Krystal Jung
Other
Cast: Temukan sendiri
CHAPTER
05
Hari ini adalah hari dimana kelompok
Kwangmin akan melakukan junggle di hutan. Mereka (Kwangmin, Youngmin, Hayoung,
dan Krystal) telah bersiap-siap dengan peralatan yang mereka bawa.
“Sesuai petunjuk dari denah ini,
kita harus melakukan banyak hal untuk menemukan harta karun yang akan kita bawa
pulang ke Seoul nanti sebagai tanda bukti bahwa kita telah melakukan survey di
hutan ini. Untuk menghemat waktu, maka kita akan membagi tim ini menjadi dua
kelompok. Kelompok yang pertama akan mencari harta karun ke arah utara yaitu
aku dan Hayoung, serta sisanya akan mencari harta karun ke arah selatan, yaitu
Kwangmin dan Krystal!” jelas Youngmin memberikan pengarahan pada tiga orang
lain yang berada dalam kelompoknya.
“Aku tidak setuju. Aku akan pergi ke
arah utara dengan Oh Hayoung. Kau ke selatan saja dengan Krystal” Kwangmin
memiliki pendapat lain yang bertentangan dengan pendapat Youngmin.
Youngmin sedikit kecewa, tapi tiba-tiba
saja ia ingat kata-kata Kwangmin tadi malam. Hingga akhirnya ia menyetujui
keputusan Kwangmin.
“Baiklah aku setuju denganmu!”
Krystal tampak senang dengan keputusan Kwangmin yang disetujui oleh Youngmin,
sedangkan Hayoung tampaknya setuju-setuju saja dengan keputusan ini.
Pencarian harta karun pun di mulai.
Kini Youngmin mulai berjalan ke arah selatan bersama dengan Krystal sedangkan
Kwangmin memulai pencariannya ke arah utara dengan Oh Hayoung.
HaKwang
Setting
Di perjalanan terasa hening, baik Hayoung
maupun Kwangmin tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka terlalu asyik dengan
pikiran masing-masing. Hingga akhirnya.
“Ya! Sunbaenim, kenapa kau ingin
mencari harta karun bersamaku? Bukankah Krystal-eonnie lebih menarik!” tanya
Hayoung tiba-tiba.
“Dia memang menarik. Semua orang
tahu itu, aku juga berpikir seperti itu. Lebih tepatnya, aku pernah berpikir
seperti itu, dulu!”
“Wae? Apa sekarang dia sudah tidak
menarik lagi?” tanya Hayoung dengan polosnya.
“Tidak! Hanya saja ada seseorang
yang menurutnya lebih menarik dariku” balas Kwangmin.
Hayoung hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya seolah tahu, padahal itu belum tentu. Lihatlah, wajah polosnya sangat
menggemaskan.
Skip Time
Hari sudah semakin sore, sedangkan
Kwangmin dan Hayoung belum juga menemukan harta karun yang mereka cari. Hayoung
merasakan lelah yang amat sangat, ia sudah tidak sanggup lagi berjalan lebih
jauh dari ini, sedangkan Kwangmin masih terlihat biasa-biasa saja. Tetapi ia
masih tetap berusaha sekuat tenaga untuk berjalan, walaupun kini ia sudah
ketinggalan beberapa meter dari Kwangmin, tapi semakin ia berjalan lebih jauh,
maka semakin ia tidak kuat untuk menahan berat tubuhnya yang entah mengapa
menjadi semakin berat dari biasanya. Tiba-tiba saja pandangannya mengabur dan,
“Bruukkk . . . . . !”
“Ya! Oh Hayoung! Kenapa kau lamban
sekali!” Kwangmin terus berjalan.
“Bisakah kau lebih cepat sedikit!”
“Ya! Cepatlah! Kalau kita tidak
segera menemukan harta karunnya maka_” ucapannya terpotong seiring dengan ia
membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Dilihatnya Hayoung yang sudah tergeletak
tak berdaya beberapa meter di belakangnya. Ia segera berlari menghampiri
Hayoung.
“Ya! Oh Hayoung! Apa yang kau
lakukan? Apa kau ingin mengerjaiku? Cepat bangun!” Kwangmin masih berdiri
berharap Hayoung akan segera bangun, tetapi tetap saja tak ada respon, akhirnya
Kwangmin pun berjongkok di dekat Hayoung dan menggoyang-goyangkan tubuhnya
berharap Hayoung segera bangun, tetapi tetap saja tidak ada respon sama sekali
dari Hayoung. Kwangmin pun semakin panik, akhirnya ia terpaksa menggendong
Hayoung, ia tidak tahu harus pergi kemana saat ini. Tidak ada rumah sama sekali
di hutan seperti ini.
Akhirnya Kwangmin menurunkan Hayoung
dibawah pohon. Ia berinisiatif untuk membuat tenda.
“Tidak sia-sia juga aku membawa ini.
Akhirnya berguna juga” gumam Kwangmin sambil mengeluarkan tenda dari ranselnya,
kemudian ia mulai membangun tendanya.
Skip Time
Hayoung bangun dari pingsannya,
tiba-tiba ia merasa asing dengan keadaan disekitarnya.
“Dimana aku?” ia duduk sambil
menengok ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia sedang
berada di dalam tenda. Ia mulai memutar otaknya sambil memikirkan sesuatu yang
telah terjadi sebelumnya hingga akhirnya ia bisa sampai disini. Tidak membutuhkan
waktu lama untuknya mengingat semua yang sudah terjadi. Ia baru sadar kalau
beberapa waktu lalu ia pingsan saat perjalanan dalam pencarian harta karun.
Hayoung keluar dari dalam tenda
tersebut, ia melihat seseorang yang sedang duduk di depan api unggun kecil. Ya,
orang itu adalah Kwangmin. Ketika mendengar adanya pergerakan, Kwangmin
langsung menoleh ke arah tenda.
“Kau sudah bangun rupanya?”
“Apakah sunbaenim yang membawaku
kemari setelah aku pingsan?” bukannya menjawab pertanyaan Kwangmin, tapi ia
malah bertanya demikian.
“Nde. Waeyo?”
“Tidak apa-apa. Tapi terimakasih
sudah menolongku” Hayoung ikut menghangatkan dirinya di dekat api unggun kecil
yang dibuat Kwangmin.
“Kenapa kau tidur lama sekali?
Lihatlah sekarang sudah jam 7 malam!”
“Aku sedang pingsan bukan tidur
sunbaenim!”
“Dari awal kita bertemu, kau selalu
memanggilku sunbaenim, itu terdengar sangat aneh!” hey, ada apa dengan
Kwangmin? Bukankah wajar jika Hayoung memanggilnya sunbaenim, dia kan memang
hoobae-nya.
“Apanya yang aneh. Aku hanya ingin
berlaku sopan pada semua orang!”
“Lalu, kenapa kau memanggil Youngmin
dengan sebutan oppa? Bukankah kemarin-kemarin kau memanggilnya sonsaengnim?” apakah
Kwangmin sedang cemburu? Entahlah.
“Itu karena Youngmin-oppa yang
memintanya!” Hayoung menjawab pertanyaan Kwangmin dengan santai.
“Lalu apakah kau akan menurutiku
jika aku memintamu untuk memanggilku
oppa?” Kwangmin menjadi semakin aneh.
“Tidak! Karena aku akan selalu
berlaku sopan padamu. Kwangmin-sunbae adalah orang yang sangat aku kagumi sejak
SMP dulu. Aku selalu menanyakan tentangmu pada Youngmin-oppa. Tetapi kau malah
membenciku!” nada bicara Hayoung berubah menjadi sedih. Hal itu membuat
Kwangmin menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Apa aku begitu membencinya. Apa aku
telah berbuat jahat padanya. Kenapa aku jadi merasa bersalah” Kwangmin
berbicara sendiri dalam hati.
“Aku akan menelepon Youngmin-oppa
untuk menjemput kita di tempat ini!” Hayoung mengambil ponsel dari dalam ransel
miliknya.
“Jangan menghubungi siapapun,
terutama Youngmin!” Kwangmin sedikit marah.
Hayoung menjadi agak takut, tubuhnya
menegang, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
“Tidak bisakah kau mengandalkanku
saat ini. Aku masih bisa melindungimu dibandingkan dengan Youngmin!”
“Mianhae . . . . .” hanya kata
itulah yang terucap dari bibir Hayoung.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar