Cari Blog Ini

Senin, 16 Juni 2014

In My Dream Chapter 06


Author: Shin Kyona
Main Cast: Kwangmin, Hayoung.
Other Cast: Member Boyfriend, Member A Pink, Suzy, Sehun, Chanyeol, Mun Kayoung.
Genre: School Life, Romance.
Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari K-Drama yang berjudul Dreamhigh. Happy reading chingu ^__^

Chapter 06
            Youngmin dan Kwangmin sedang dalam fase saling diam satu sama lain. Youngmin masih tidak percaya kalau ternyata Kwangmin pernah memiliki perasaan spesial pada Kayoung, pasalnya Youngmin tahu kalau selama ini Kwangmin selalu dingin pada siapapun termasuk Kayoung. Ia masih sangat-sangat tidak percaya dengan kenyataan ini.
            “Apa kau marah padaku?” tanya Kwangmin pada Youngmin.
            “Untuk apa aku marah padamu?” Youngmin malah bertanya pada Kwangmin, sementara ia belum menjawab pertanyaan Kwangmin.
            “Tentang aku dan Kayoung. Kau hanya boleh percaya padaku hyung. Aku memang pernah menyukainya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku benar-benar mencintai Hayoung, dan aku tidak ingin menyakiti hatinya” jelas Kwangmin. ‘Dan aku juga menyayangimu hyung, aku tidak ingin menghancurkan hatimu. Itulah alasan sebenarnya aku menjauhi Kayoung’ lanjutnya dalam hati.
            “Kau tidak bisa berbohong padaku Kwang. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan pernah bersama Kayoung, itu karena aku tak ingin menghancurkan hatimu, karena aku mencintaimu melebihi apapun” Youngmin telah membuat keputusan yang paling berat dalam hidupnya. Melepas seorang Mun Kayoung hanya karena ia tidak ingin menyakiti adik kembarnya.
            “Kau tak boleh seperti itu hyung. Aku telah melepaskan Kayoung untukmu, tetapi kenapa kau menyerah begitu saja?” Kwangmin sedikit marah karena ia tahu bahwa pengorbanannya tidak dihargai.
            “Percuma kau berbuat itu untukku, pada kenyataannya Kayoung hanya akan memikirkanmu, dan orang itu adalah kau, bukan aku. Aku tidak ingin memaksa Kayoung untuk mencintaiku. Aku hanya ingin berada disampingnya, menjadi teman yang selalu ada untuknya” jelas Youngmin, sedangkan Kwangmin hanya diam saja mendengarkan penuturan kakak kembarnya.
Skip Time . . .
            19 Juli. Hari ini adalah hari ulang tahun Hayoung yang ke-16. Ia sedang ada jadwal trainee di Cube Entertainment. Banyak teman-teman trainee-nya yeng mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
            “Saengil cukkae hoobaenim. Kudengar dari yang lain hari ini ulang tahunmu yang ke-16 ya?” salah seorang sunbae Hayoung dari BEAST, yaitu Gikwang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
            “Nde sunbaenim. Kamsahamnida!” balas Hayoung.
            “Wah! Kamu sopan sekali ya. Dan kamu juga masih sangat muda. Umurmu saja baru 16 tahun, tapi tinggi badanmu itu loh! So high!” puji Gikwang. Memang benar, walaupun Hayoung seorang gadis dan masih sangat muda, tapi tinggi badannya mencapai 169 cm. Beruntung ia memiliki Kwangmin sebagai namjachingu-nya, karena Kwangmin memiliki tinggi badan yang masih lebih tinggi darinya, yaitu 180 cm.
            “Jeongmal kamsahamnida sunbaenim!” balas Hayoung sambil tersenyum.
            “Hayoung-ah. Diluar ada seorang namja tampan, dia sedang mencarimu” Naeun tiba-tiba datang dan memberi tahu Hayoung.
            “Jeongmal unnie?” Hayoung mendadak cerah.
            “Nde. Apa dia namjachingu-mu?” tanya Naeun sambil menggoda Hayoung.
            “Ah aniyo!” Hayoung sedikit malu.
            “Ya. Mengaku saja. Namjachingu-mu tampan sekali. Apa dia satu sekolah denganmu?” Naeun masih menggoda Hayoung.
            “Unnie, aniyo” Hayoung semakin malu.
            “Arraseo. Lebih baik kau temui dia sekarang” kata Naeun menyarankan.
            “Nde unnie!” Hayoung  bergegas keluar dari ruang latihannya. Ia menemui namja tersebut yang ternyata adalah Kwangmin.
            “Kwangmin-oppa” Hayoung datang menghampiri Kwangmin dan duduk disebelahnya.
            “Uri Hayoung-ah! Aigoo, kau lama sekali”
            “Mianhae” kata Hayoung sambil tersenyum manis pada Kwangmin.
            “Apa kau sudah selesai latihan?” tanya Kwangmin.
            “Nde” balas Hayoung.
            “Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Kwangmin.
            “Memangnya kita mau kemana oppa?” tanya Hayoung, sepertinya ia lupa dengan permintaannya.
            “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kajja!” Kwangmin menggandeng tangan Hayoung, dan si empunya tangan hanya menurut saja.
            Kwangmin mengajak Hayoung naik bus untuk menuju ke suatu tempat. Mereka duduk bersebelahan.
            “Uri Hayoungie saengil cukkae” kata Kwangmin. Lalu Hayoung menoleh kearah Kwangmin dan tersenyum manis.
            “Oppa gomawo”
            Kwangmin memberikan sekotak kecil kado yang terbungkus kertas kado dengan rapi.
            “Ini untukmu” Hayoung tersenyum ceria.
            “Gomawoyo oppa!” Hayoung membuka kotak kado tersebut. Ia sangat suka dengan benda yang terdapat dibalik kotak kado itu.
            “Wah! Ini keren sekali oppa. Tapi ini apa? Kenapa ada tulisan ‘HaKwang’? Namaku kan ‘Hayoung’ bukan ‘HaKwang’?” tanya Hayoung polos.
            “Aish. Begitu saja tidak tahu. ‘HaKwang’ itu Hayoung dan Kwangmin” jawab Kwangmin.
            “Wah! Itu keren sekali oppa. ‘HaKwang’ Hayoung Kwangmin” Hayoung berbicara sendiri sambil menerawang.
            “Sini biar aku pakaikan” Kwangmin mengambil kalung tersebut dan memakaikannya dileher jenjang Hayoung.
            “Itu memang cocok untukmu” kata Kwangmin.
            “Gomawo oppa” CUP. Hayoung mencium pipi kanan Kwangmin sehingga membuat Kwangmin sedikit malu.
            “Ya. Oh Hayoung, kita sedang ada didalam bus. Bagaimana kalau orang-orang melihat kita?”
            “Biarkan saja” balas Hayoung santai.
            “Aish! Jinjja!”
Skip Time . . .
            Hayoung dan Kwangmin sudah sampai di suatu tempat. Ternyata Kwangmin mengajak Hayoung ke Myeongdong.
            “Wah! Kenapa oppa bisa tahu kalau aku memang sedang ingin kemari?” tanya Hayoung antusias.
            “Tentu saja. Sebenarnya sudah lama aku ingin kesini denganmu, tapi selalu tidak ada waktu. Ayo kita ke suatu tempat. Aku sudah siapkan sesuatu untukmu.
            “Jeongmal?” Hayoung mendadak berubah menjadi cerah.
            “Nde. Kajja!” Kwangmin mengajak Hayoung datang ke sebuah restoran mahal yang sepertinya ia sudah memesan tempat itu secara khusus untuk kencan romantis mereka, karena tak ada satu orang pun yang menghuni restoran itu kecuali mereka.
            “Apa ini yang sempat kau minta? Aku akan memenuhinya, kencan romantis yang selama ini kau inginkan” tanya Kwangmin pada Hayoung.
            “Nde oppa. Aku sangat menyukainya. Ini sangat keren dan suasananya sangat romantis” Hayoung tersenyum. Melihat itu, Kwangmin juga ikut tersenyum tulus pada Hayoung.
            Tapi tiba-tiba,
            ‘tulilulit. . . tulilulit’ ponsel Kwangmin berdering, lalu ia mengangkat panggilan tersebut.
            “Baiklah aku akan segera kesana!” wajah Kwangmin berubah menjadi khawatir. Ia bersiap untuk pergi. Hayoung hanya bingung dan terdiam sambil menatap Kwangmin dengan pandangan tidak mengerti.
            “Hayoungie mianhae. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Kayoung mengalami kecelakaan, dan sekarang dia sedang membutuhkanku!”
            DEG
            “Jadi oppa ingin membatalkan kencan kita hanya karena hal itu. Lalu kenapa Kwangmin-oppa harus susah-susah mengajakku kemari?” Hayoung sangat sakit hati karena kata-kata Kwangmin.
            “Hal ini terjadi mendadak, dan aku juga tidak tahu kalau akan seperti ini. Sekali lagi maafkan aku. Aku harus kerumah sakit sekarang!” Kwangmin sudah sangat kalut, dia sangat mengkhawatirkan Kayoung saat ini.
            “Apa oppa akan berbuat hal serupa jika aku yang berada di posisi Kayoung-eonnie. Apa aku sama sekali tidak memiliki tempat dihatimu dibandingkan dengan Kayoung-eonnie?” air mata Hayoung sudah berhasil mengalahkan pertahanan yang ia buat.
            “Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan seperti anak kecil. Mianhae, aku harus pergi sekarang!” Kwangmin pergi meninggalkan Hayoung sendiri di restoran itu, sedangkan Hayoung masih terdiam memaku. Ini adalah hari ulang tahunnya yang paling buruk sepanjang sejarah hidupnya.
Kwangmin POV
            Mianhae Hayoungie. Aku sungguh tak ingin seperti ini. Aku harap kau akan memaafkanku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang perasaanku itu sungguh tidak benar. Aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya kurasakan, tapi waktu belum mengijinkanku untuk mengatakan itu.
            Aku tahu uri Hayoungie bukan orang yang egois, dan aku yakin sebesar apapun kesalahanku padamu, kau akan memaafkanku. Jeongmal mianhae. Nan saranghae.
End Kwangmin POV
*__*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar